SELAMAT DATANG di JA'FAR'S BLOG... Semoga Blog Ini Bisa Bermanfa'at Untuk Kita Semua...aamiin.... "ISLAM IS MY LIFE"
Home » » Sumber Ajaran Islam

Sumber Ajaran Islam

Selasa, 27 November 2012 | 0 komentar



BAB I
PEMBAHASAN
SUMBER AJARAN ISLAM
            Di kalangan ulama terdapat kesepakatan bahwa sumber ajaran Islam yang utama adalah Al-Qur’an dan Al-Sunnah; sedangkan penalaran atau akal pikiran sebagai alat untuk memahami Al-Qur’an dan Al-Sunnah.
1.      Al-Qur’an
Di kalangan para ulama dijumpai adanya perbedaan pendapat disekitar pengertian Al-Qur’an, baik dari segi bahasa maupun istilah. Al-Asy’ari misalnya mengatakan bahwa Al-Qur’an bukan berasal dari akar kata apapun, dan bukan pula ditulis dengan memakai hamzah. Lafal tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertian Kalamullah (Firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.  Sementara itu Al-Farra berpendapat bahwa lafal Al-Qur’an berasal dari kata qarain jamak dari qariinah yang berarti kaitan, karena dilihat dari segi makna dan kandungannya ayat-ayat Al-Qur’an itu satu sama lainnya saling berkaitan. Selanjutnya Al-Asy’ari dan para pengikutnya mengatakan bahwa lafal Al-Qur’an diambil dari akar kata qarn yang berarti menggabungkan sesuatu atas yang lain; karena surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an satu dan lainnya saling berkaitan.
Pngertian-pengertian kebahasaan yang berkaitan dengan Al-Qur’an tersebut sungguhpun berbeda, tetapi masih dapat ditampung oleh sifat dan karakteristik Al-Qur’an itu sendiri, yang antara lain ayat-ayatnya saling berkaitan satu dan lainnya.
Adapun pengertian Al-Qur’an dari segi istilah dapat dikemukakan berbagai pendapat berikut ini.
Manna’ al-Qaththan, secara ringkas mengutip pendapat para ulama pada umumnya yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, dan dinilai ibadah bagi yang membacanya.[1]
Pengertian secara lebih lengkap dikemukakan oleh Abd. Al-Wahhab Al-Kallaf, menurutnya, Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada hati Rasulullah Muhammad bin Abdullah melalui Jibril dengan menggunakan lafal bahasa arab dan maknanya yang benar agar ia menjadi hujjah bagi Rasul bahwa ia benar-benar Rasulullah, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah dengan membacanya. Ia terhimpun dalam mushaf, dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-nas disampaikan kepada kita secara mutawattir dari generasi ke generasi, baik secara lisan maupun tulisan serta terjaga dari perubahan dan pergantian.
Dari bebrapa kutipan tersebut kita dapat mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang isinya mengandung firman Allah turunnya secara bertahap melalui malaikat Jibril pembawanya Nabi Muhammad saw susunannya dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas bagi yang membacanya bernilai ibadah.
Ketika umat Islam berselisih dalam segala urusannya hendaknya ia berhakim kepada Al-Qur’an. Al-Qur’an lebih lanjut memerankan fungsi sebagai pengontrol dan pengoreksi terhadap perjalanan hidup manusia di masa lalu. Berbagai penyimpangan yang dilakukan Bani Israil terhadap ayat-ayat Allah telah dikoreksi. Dalam kaitan inilah di dalam Al-Qur’an dijumpai ayat yang menyatakan celaka bagi orang-orang yang menulis kitabnya dengan tangannya sendiri lalu menyatakan bahwa kitab itu sebagai firman Allah Swt.[2]
A.    Fungsi Al-Qur’an
a.       Al-huda (petunjuk). Pertama, petunjuk bagi manusia secara umum. Kedua, Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Ketiga, petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Allah berfirman: “…. katakanlah:  Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang beriman…” (QS. Fushshilat [41]: 44).
Begitu juga, bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang beriman disebutkan pula pada ayat lainnya, antara lain dalam surat Yunus (10) ayat 57.
b.      Al-furqan (pemisah). Allah berfirman, “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an yang berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 185).
c.       Al-syifa (obat). Dalam Al-Qur’an (Q.S. Yunus [10]: 57) dikatakan bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai obat bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada.
d.      Al-mau’izhah (nasihat). Dalam Al-Qur’an (Q.S. Ali Imran [3]: 138) dikatakan bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai nasihat bagi orang-orang yang bertakwa.
e.       Al-Qur’an juga berfungsi sebagai Haklim atau Wasit yang mengatur jalannya kehidupan manusia agar berjalan lurus.[3]

Fungsi Al-Qur’an dari pengalaman dan penghayatan terhadap isinya bergantung pada kualitas ketakwaan individu yang bersangkutan.

B.     Al-Qur’an sebagai Firman Allah
Al-Qur’an merupakan wahyu atau kalam Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. Isinya penuh dengan ilmu yang terbebas dari keraguan (Q.S. Al-Baqarah [2]: 2), kecurangan (Q.S. Al-Naml [27]: 1), pertentangan (Q.S. An-Nisa [4]: 82), dan kejahilan (Q.S. As-Syu’ara [26]: 210).
Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr. [15]: 9).
C.    ‘Ulum Al-Qur’an dan Tafsir
Dilihat dari sejarah dan proses pewahyuan, Al-Qur’an tidak diturunkan secara sekaligus, tetapi melalui tahapan-tahapan tertentu secara periodik, sedikit demi sedikit dan ayat demi ayat. Hikmah pewahyuan semacam ini adalah untuk memberikan pemahaman bahwa setiap ayat Al-Qur’an tidak hampa sosial.
            Proses penurunan wahyu itu dibagi tiga periode. Pertama, periode ketika Nabi Muhammad Saw masih berstatus nabi, yaitu dengan diterimanya wahyu pertama, surat Al-‘Alaq. Kedua, periode terjadinya pertarungan antara gerakan Islam dan kaum jahiliyah yang berlangsung antara 8 sampai 9 tahun. Ketiga, periode ketika umat Islam dapat hidup bebas dalam menjalankan ajaran-ajaran agama.
           
Adapun cara Allah Swt menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw adalah melalui beberapa cara berikut:
a.       Malaikat memasukkan wahyu ke dalam hati Nabi Muhammad Saw.
b.      Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi Muhammad Saw berupa seorang laki-laki.
c.       Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi Muhammad Saw dalam rupanya yang asli.
d.      Wahyu datang kepada Nabi Muhammad Saw seperti gemerincingnya lonceng.
Selanjutnya mengenai penulisan ayat-ayat Al-Qur’an. Pada masa Nabi Muhammad ayat-ayat Al-Qur’an masih berserakan dalam bentuk tulisan di atas pelapah daun kurma, lempengan batu, dan kepingan tulang.
Kini beralih ke kandungan dan pesan-pesan yang dimuat oleh Al-Qur’an. Pada bahasan terdahulu dijelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang berfungsi sebagai petunjuk, tidak hanya bagi umat Islam tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Sebagai petunjuk, Al-Qur’an memuat aturan dan ajaran yang meliputi berbagai dimensi kehidupan.
Quraish Shihab (1995; 71-72) membagi periode tafsir kepada dua bagian. Pertama, periode nabi, sahabat dan tabi’in sampai kira-kira tahun 150 H. Kelompok tafsir periode ini disebut tafsir bi al-ma’tsur. Kedua, periode ketika hadis-hadis Rasulullah telah beredar luas dan berkembang hadis-hadis palsu di tengah-tengah masyarakat sehingga menimbulkan banyak persoalan yang belum terjadi sebelumnya. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut para mufasir mulai berijtihad.

2.      Al-Sunnah
Kedudukan Al-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam selain didasarkan pada keterangan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis juga didasarkan kepada pendapat kesepakatan para sahabat.[4] Yakni seluruh sahabat sepakat untuk menetapkan tentang wajib mengikuti hadis, baik pada masa Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat.
            Menurut bahasa, Al-Sunnah artinya jalan hidup yang dibiasakan terkadang jalan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk.[5] Sementara itu, secara istilah menurut Jumhurul Ulama’ atau kebanyakan para ulama ahli hadits mengartikan Hadits yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun ketetapan.
            Sebagai sumber ajaran Islam kedua, setelah Al-Qur’an, Al-Sunnah memiliki fungsi yang pada intinya sejalan dengan Al-Qur’an. Keberadaan Al-Sunnah tidak dapat dilepaskan dari adanya sebagian ayat Al-Qur’an :
1)      Yang bersifat global (garis besar) yang memerlukan perincian,
2)      Yang bersifat umum (menyeluruh) yang menghendaki pengecualian,
3)      Yang bersifat mutlak (tanpa batas) yang menghendaki pembatasan,
4)      Isyarat Al-Qur’an yang mengandung makna lebih dari satu (musytarak) yang menghendaki penetapan makna yang akan dipakai dari dua makna tersebut.
Bahkan terdapat sesuatu yang secara khusus tidak dijumpai keterangannya di dalam Al-Qur’an yang selanjutnya diserahkan kepada hadits Nabi saw. Selain itu ada juga yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an tetapi hadits datang pula memberikan keterangan, sehingga masalah tersebut menjadi kuat.
      Dalam kaitan ini, hadits berfungsi memerinci petunjuk dan isyarat Al-Qur’an yang bersifat global, sebagai pengecuali terhadap isyarat Al-Qur’an yang bersifat umum, sebagai pembatas terhadap ayat Al-Qur’an yang bersifat Mutlak, dan sebagai pemberi informasi terhadap sesuatu kasusyang tidak dijumpai didalam Al-Qur’an. Dengan posisinya yang demikian itu, maka pemahaman Al-Qur’an dan juga pemahaman ajaran islam yang seutuhnya tidak dapat dilakukan tanpa mengikutsertakan hadits. Sebagai contoh didalam Al-Qur’an terdapat perintah shalat dan menunaikan zakat (QS. Ql-Baqarah,2:43). Perintah shalat dan menunaikan zakat ini bersifat global yang selanjutnya dirinci dalam hadits yang didalamnya berisi contoh tentang shalat yang dimaksudkan oleh ayat tersebut.





BAB II
KESIMPULAN

Al-Qur’an adalah kitab suci yang isinya mengandung firman Allah turunnya secara bertahap melalui malaikat Jibril pembawanya Nabi Muhammad saw susunannya dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas bagi yang membacanya bernilai ibadah. Sedangkan Hadits menurut Jumhurul Ulama’ atau kebanyakan para ulama ahli hadits mengartikan Hadits yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun ketetapan. Al-Qur’an sebagai wahyu yang berasal dari Allah merupakan Sumber Ajaran Islam yang pertama, yang kemudian penjabarannya dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, yang sering dikenal sebaghai Al-Hadits. Maka Hadits merupakan sumber ajaran islam ke dua setelah Al-Qur’an.













DAFTAR PUSTAKA

Ø  Abuddin Nata, Metodologi Study Islam. RajaGrafindo Persada. Jakarta. 2011.
Ø  Manna’ Al-Qaththan, Mababits fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Mesir: Mensyurat al-‘Ashr al-Hadis).
Ø  Muhammad ‘Ajaj Al-Khatib, ‘Usbul al-Hadis, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989).



[1] Manna’ Al-Qaththan, Mababits fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Mesir: Mensyurat al-‘Ashr al-Hadis, t.t.), hlm. 21.
[2] Maka celakalah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangannya sendiri kemudian mereka mengatakan bahwa kitab ini berasal dari sisi Allah. (QS. Al-Baqarah, 2:79).
[3] Abuddin Nata, Metodologi Study Islam. RajaGrafindo Persada. Jakarta. 2011. Hal. 71
[4] Apa-apa yang disampaikan Rasulullah kepadamu, terimalah, dan apa-apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr, ayat 7); Dan kami tidak mengutus seorang Rasul, melainkan untuk dita’ati dengan idzin Allah. (QS. An-Nisa, ayat 64).
[5] Muhammad ‘Ajaj Al-Khatib, ‘Usbul al-Hadis, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), hlm. 17
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Lupa Join Ya Sob....

Untuk menjalin Silaturahim diniatkan Lillaahi Ta'ala...

Salam Penulis :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Blog ini sengaja saya buat sebagai salah satu media silaturahim dan agar dapat saling bertukar fikiran (sharing) tentang ilmu yang kita miliki... Apabila terdapat kata-kata yang kasar dan terlihat kurang sopan, Saya minta ma'af yang sebesar-besarnya... semoga bermanfa'at dan kita bisa mengamalkan ilmu yang kita miliki... "Wallaahu A'lam Bish_Shawaab..." وَاَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ