K. H HASIM ASY'ARI DALAM MASA
PERJUANGAN
A. Masa Kanak-Kanak Sampai Dewasa.
Pada tanggal 24 Dzulqodah 1287
hijriyah (14 Februari 1871)[1], lahirlah seorang bayi laki-laki dari pasangan
Asy’ari dan Halimah disebuah desa Gedang, Jombang Jawa Timur, bayi
tersebut kemudian diberi nama Hasyim Asy’ari. Menurut silsilah ia dipercaya masih merupakan
keturunan dari bangsawan-bangsawan terkemuka yang pernah berkuasa ditanah Jawa
ini. Semenjak kelahiranya sampai ia berumur 5 tahu ia tinggal ditempat kakeknya
dan sambil belajar ilmu agama di pondok pesantren milik kakeknya yaitu pondok pesantern Gedang. Beliau dididik
sejak kecil mengenai ilmu-ilmu agama yan kelak menjadi bekal menjalani
kehidupanya. Setelah ia berumur 6 tahun K.H Asy’ari kemudian pindah mengikuti
orang tuanya kesebuah desa yaitu desa Keras. Di desa tersebut kemudian orang tuanya
melekukan dakwah dan mendirikan sebuah pondok pesantren sebagai media dalam
menyebarkan agama Islam. Disinalah K.H Hasyim Asy’ari melanjutkan studinya
menuntut ilmu-ilmu agama melalui bimbingan orang tuanya sampai ia beumur lima
belas tahun. Tidak berbeda dengan orang tuanya ia dikemudian hari juga
mendirikan sebuah pesantren, hal tersebut terjadi mungkin karena sikap yang di
tularkan dari orang tuanya yang juga mendirikan sebuah pesantren. Kehidupan
beliau semenjak ia lahir sampai usia remaja berada dalam lingkungan pesantren,
hal inilah yang mempengaruhi dan membentuk corak watak dan sikapnya dimasa
depanya. Setelah selama 10 tahun beliau belajar ilmu agama dengan bimbingan
orang tuanya pada usianya mencapai lima belas tahun beliau meneruskan studi islamnya
ke berbagai pondok pesantren ternama di tanah Jawa timur yang kianya mempunyai
keahlian-keahlian didalam bidang ilmu agama tertentu. Pondok pesantren yang
pertama ia kunjungi pada saat itu adalah pondok pesantren Wonokoyo di daerah
Jombang. Setelah ia selesai menguasai ilmu yang diajarkannya ia kemudian
melajutkan perjalanannya dan mendatangi pondok pesantren Probolinggo. Selesai
di Probolinggo beliau melanjutkan kembali ke pondo pesantren Terenggelis. Dan
masih banyak pondik pesantren lainya di Jawa Timur yang di datangi untuk
menambah ilmunya.[2] Walaupun beliau telah belajar dan berhasil menguasai
ilmu-ilmu agama dibeberapa pondok pesantren terkemuka di Jawa Timur namun
hasrat beliau untuk tetap menuntut dan belajar ilmu keagamaan Islam masih terus
menggebu-gebu. Akhirnya memutuskan untuk pergi dan menggembara ke luar Jawa
untuk memperdalam ilmu pengetahuan agamanya, tempat yang di tuju ialah sebuah
Pondok Pesantren di daerah Madura. Namun setelah selesai belajar di Madura
ternyata ia merasa bahwa ilmu yang di dapatnya belumlah cukup untuk bekal
kehidupanya sehingga ia melanjutkan studinya di Sidoarjo, yaitu seuah pondok
pesantren yang benama Siwalan Panji. Di dalam pondok tersebut ia di bimbing
oleh seorang kiai yaitu kiai Yakub. Disana beliau dalam menuntut ilmu agamanya
sangat cepat diterimanya dan beliau jiuga murid yang tergolong cerdas dan
pintar. Sikap dan perilakunya yang sopan santun ternyata mengundang perhatian
tersendiri dari kiai Yakub sehingga suatu saat ia di panggil oleh kiai yakub untuk
dianggap bicara mengenai pikiran yang ada dibenak kiai Yakub tersebut. Ternyata
perhatian kiai tersebut yang selama ini ada dalam pikiranya yaitu menjodohkan
K.H hasyim Asy’ari dengan putrinya yang bernama Khadijah. Tawaran tersebut
sangat membingungkan K.H Hasyim Asy’ari, di satu sisi ia mempunyai cita-cita
dan harapan untuk bisa menuntut ilmu dan memperdalam lebih lanjut karena ia
merasa ilmu yang selama ini ia peroleh belumlah cukup hanya sampai di sini
saja, ia menginginkan agar ilmu yang di dapatnya lebih dari sekedar itu. Namun
dilain pihak beliau tidak ingin mengecewakan guru yang selama ini
membimbingnya. Sebenarnya apa yang di ragukan dan difikirkan oleh K.H Hasyim
Asy’ari telah diketahui oleh Kiai Yakub dan akhirnya Kiai Yakub pun memberikan nasihat
dan wejangan dan mengatakan bahwa mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi
setiap muslim, dan mencar ilmu itu tidak ada batasanya seperti luasnya lautan,
ia juga mengatakan menikah bukanlah halangan bagi seseorang untuk mencari ilmu
selama niat yang ada pada orang tersebut terus menggebu-gebu. Akhirnya untuk
memutuskan hal tersebut ia meminta pertimbangan kepada orang tuanya, dan
ternyata orang tuanya pun menyetujui hal tersebut. Sehingga ia memutuskan untuk
menerima tawaran tersebut dan menikah dengan putri Kiai Yakub, dan ketika itu
K.H berusia 21 tahun.
Setelah ia menikah dan menetap
ditempat mertuanya kemudian ia dan keluarganya memenuhi rukun Islam yang
terakhir yaitu melaksanakan ibadah haji ke Makkah, sekaligus ia menetap disana
untuk memperdalam ilmunya dan sampai ia khirnya istrinya melahirkan, namun
nasib baik belum berada dipihaknya, K.H Hasyim Asy’ari mendapat ujian dari
dengan di ambil nyawa anak dan istrinya. Disana beliau belajar dari berbagai
kiai-kiai besar dan hebat yang ada di Makkah. Kebetulan pada saat beliau berada
di Makkah disana sedang terjadi gerakan pan Islamisme yang di pelopori oleh
Jalaludin Al-Afgani dan Muhammad Abduh. Hal tersebut sangatlah berpengaruh
terhadap pemikiran K.H Hasyim Asr’ari ketika pulang ke tanah air.
B. Peranan K.H Hasyim Asy’ari
Dalam Nahdlatul Ulama Terhadap Perjuangan Melawan Kolonialisme.
Berbicara masalah kelompok
Jam’iyah islam Nahdlatul Ulama tidak akan pernah bisa lepas dari peran dan
sosok K.H Hasyim Asy’ari. K.H Hasyim Asy’ari sangatlah berpengaruh terhadap
perkembangan organisasi ini karena pemikiran beliaulah organisasi ini bekembang
pesat hingga tersebar di hampir seluruh Jawa. Beliau adalah sosok yang sangat
karismatik sehingga tak heran apabila para kiai pengasuh pondok pesantren
didaerah Jawa Timur dan Jawa Tengah
waktu itu sangatlah menghormati diriya, bahkan orang yang pernah menjadi guru
dan pembimbingnya semasa ia berada di pondok pesantren, sekarang ia mengganggap
bekas muridnya itu menjadi gurunya. Jam’iyah (organisasi) Nahdlatul Ulama
adalah organisasi yang lahir di tengah-tengah kemajuan dan kemegahan bangsa
barat yang sedang menjajah bangsa kita ini. Untuk mempertahankan organisasi
ini bukanlah suatu usaha yang mudah pada masa itu, karena pemerintah kolonial
pada masa itu tidak ingin ada kekuatan dalam masyarakat pribumi karena di
anggap akan membahyakan kekuasaanya di Nusantara ini. Walaupun beliau menjadi
pemimpin yang besar dalam organisasi tersebut dan organisasinya berkembang
secara pesat namun ia tidak pernah membenci jam’iyah-jam’iyah lainya yang ada,
justru beliau menginginkan persatuan yang harus galakan dan ditegakan sesama
umat muslim. Karena tanpa persatuan tersebut umat muslim yang jumlahnya banyak
pun akan mudah didipecah belah.
Sehubungan dengan diterapkanya
kebijakan plitik Etis oleh pememrintah Belanda maka dimulailah babak baru
dimana rakyat dan tanah air ini mengalami pengeksploitasian secara
besar-besaran. Banyak masyarakat pribumi yang menjadi korban dari kebijakan
tersebut sehingga melahirkan perasaan-perasaan benci yang teramat mendalam
terhadap pemerintah. Kesengsaraan melanda masyarakat pribumi yang menyebabkan
menimbulkan perubahan sosial dan pemiskinan rakyat khususnya yang berada di
daerah pedesaan. Tatanan kebijakan pemerintah
terhadap masyarakat pribumi yang menyengsarakan ini mengakibatkan keinginan
untuk diadakan tatanan pemeritahan yang baru yang bisa membawa mereka kearah
yang lebih baik. Untuk mewujudkan impianya tersebut masyarakat kemudian
melakukan aksinya dengan melakukan protes terhadap pemerintah. Melihat hal
tersebut K.H Hasyim Asy’ari berusaha untuk memahami dan melakukan dakwahnya
dengan cara-cara yang tepat. Pondok pesantren di Jawa waktu itu sangatlah
menutup pengaruh dari luar khususnya pengaruh dari bangsa kolonial yang di
anggap merusak moral-moral Islam. Segala bentuk pengaruh yang berbau barat
pasti akan ditolaknya sehingga masyarakat pesantren menjadi kolot dan
tertinggal. Hal ini terjadi secara terus-menerus sampai datang pemikiran modern
yang sadar akan ketertinggalannya.
Perjuangan K.H Hasyim Asy’ari
dilakukan dengan mengobarkan semangat pembaharuan pada tahun 1926[3] terhadap
masyarakat pondok pesantren yang sangat masih menutup diri dari pengaruh luar.
Selain ilmu-ilmu agama yang di ajarkan didalam pondok ia juga memperbolehkan ilmu-ilmu
umum di ajarkan dengan tujuan agar mereka tidak tertinggal dengan bangsa Barat.
Awalnya pembaharuan ini tidak disetujui oleh golongan kiai kiai yang sudah tua
namun setelah dijelaskan oleh K.H Hasyim Asy’ari dengan alasan untuk
menghancurkan mereka kita harus mengetahui dahulu lawan kita, akhirnya
pembaharuan tersebut dapat diterima oleh golongan Kiai-kiai tua. Walaupunbeliau
membebolehkan pengaruh arat masuk namun beliau tetap meyaring setiap sesuatu
hal yang masuk. Pemerintah pada saat itu menyadari bahwa kekuatan yang ada
dalam masyarakat Islam tersebut dapat membahayakan dirinya, sehingga pemerintah
memutuskan untuk mempengaruhi K.H Hasyim Asy’ati dengan iming-iming gaji yang
besar dan tanda kehormatan, namun semua itu di tolah oleh beliau dengan dalih
bahwa beliau tidak mau mengurangi rasa iklasnya dalam pengabdian terhadap agama
Islam.
KH Hasyim Asy’ari, Sang Penjaga
Islam Tradisional
Kyai Haji Mohammad Hasyim
Asy’arie, bagian belakangnya juga sering dieja Asy’ari atau Ashari, lahir 10
April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H) dan wafat pada 25 Juli 1947; dimakamkan di
Tebu Ireng, Jombang, adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam
yang terbesar di Indonesia.
Keturunan Raja Pajang
KH Hasyim Asyari adalah putra
ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren
Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari
garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan
Pajang).
Jaket Motor Anti Angin
Jual Jaket Motor Respiro Anti
Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
www.JaketRespiro.com
19 Video Debat Islam-Kristen
Plus 4.000 artikel Islami, 6.000
kitab, serta nasyid walimah & jihad.
digitalhuda.com/?f1
Peluang Usaha
Peluang Usaha Sambil Ibadah,
Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
www.rumahhajidanumrah.com
Baju Hamil dan Menyusui
Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui,
Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.Hasyim adalah
putra ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis ibu, Halimah, Hasyim masih
terhitung keturunan ke delapan dari Jaka Tingkir alias Sultan Pajang, raja
Pajang. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga Kyai. Kakeknya, Kyai Utsman
memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri,
Kyai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang.
Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh
kepada Hasyim.
Berikut silsilah lengkapnya.
Ainul Yaqin (Sunan Giri), Abdurrohman (Jaka Tingkir), Abdul Halim (Pangeran
Benawa), Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda), Abdul Halim, Abdul Wahid, Abu
Sarwan, KH. Asy’ari (Jombang), KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Pendidikan
Sejak anak-anak, bakat
kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman
sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah
membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya.
Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam
ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di
Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban.
Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu
yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah
asuhan Kyai Cholil.
KH Hasyim Asyari belajar
dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin
Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba
ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo,
Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren
Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Tak lama di sini, Hasyim pindah
lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub
inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang
diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim
dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren
Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang
cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga
istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu
puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya
berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim
kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.
Tahun 1893, ia berangkat lagi ke
Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin
Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh
Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan
Sayyid Husein Al Habsyi.. Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten
milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren
Tebuireng. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani
dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu,
biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa
sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual
hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi
keluarga dan pesantrennya.
Mendirikan Pesantren Tebuireng
Tahun 1899, Kyai Hasyim membeli
sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200
meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun
1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di
sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu (Jawa: tratak)
sebagai tempat tinggal.
Dari tratak kecil inilah embrio
Pesantren Tebuireng dimulai. Kyai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak
bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat
itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28
orang.
Setelah dua tahun membangun
Tebuireng, Kyai Hasyim kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai
Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan.
Kyai Hasyim kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas,
pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan ini Kyai Hasyim dikaruniai
10 anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul
Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9)
Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf.
Pada akhir dekade 1920an, Nyai
Nafiqoh wafat sehingga Kyai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri
Kyai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan
ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2)
Fatimah, (3) Khotijah, (4) Muhammad Ya’kub.
Kesan Akhlak dan Kecerdasan
Pernah terjadi dialog yang
mengesankan antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan KH
Mohammad Cholil, gurunya. “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya
nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Cholil, begitu Kyai dari
Madura ini populer dipanggil.
Kyai Hasyim menjawab, “Sungguh
saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian.
Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri,
murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan
Guru selama-lamanya.”
Tanpa merasa tersanjung, Mbah
Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hati kami
sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar
di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” katanya. Karena
sudah hafal dengan watak gurunya, Kyai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain
menerimanya sebagai santri.
Lucunya, ketika turun dari masjid
usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang
saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya.
Sesungguhnya bisa saja terjadi
seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan itu banyak terjadi.
Namun yang ditunjukkan Kyai Hasyim juga Kyai Cholil; adalah kemuliaan akhlak. Keduanya
menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati, dua hal yang sekarang
semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita.
Mbah Cholil adalah Kyai yang
sangat termasyhur pada jamannya. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh
penting NU generasi awal pernah berguru kepada pengasuh sekaligus pemimpin
Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, ini.
Sedangkan Kyai Hasyim sendiri tak
kalah cemerlangnya. Bukan saja ia pendiri sekaligus pemimpin tertinggi NU, yang
punya pengaruh sangat kuat kepada kalangan ulama, tapi juga lantaran ketinggian
ilmunya. Terutama, terkenal mumpuni dalam ilmu Hadits. Setiap Ramadhan Kyai
Hasyim punya ‘tradisi’ menggelar kajian hadits Bukhari dan Muslim selama
sebulan suntuk. Kajian itu mampu menyedot perhatian ummat Islam.
Maka tak heran bila pesertanya
datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk mantan gurunya sendiri, Kyai
Cholil. Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim. Setelah lulus dari
Tebuireng, tak sedikit di antara santri Kyai Hasyim kemudian tampil sebagai
tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH
Bisri Syansuri, KH. R. As’ad Syamsul Arifin, Wahid Hasyim (anaknya) dan KH
Achmad Siddiq adalah beberapa ulama terkenal yang pernah menjadi santri Kyai
Hasyim.
Tak pelak lagi pada abad 20
Tebuireng merupakan pesantren paling besar dan paling penting di Jawa.
Zamakhsyari Dhofier, penulis buku ‘Tradisi Pesantren’, mencatat bahwa pesantren
Tebuireng adalah sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh
Jawa dan Madura. Tak heran bila para pengikutnya kemudian memberi gelar
Hadratus-Syaikh (Tuan Guru Besar) kepada Kyai Hasyim.
Perjuangan dan Penjajahan
Karena pengaruhnya yang demikian
kuat itu, keberadaan Kyai Hasyim menjadi perhatian serius penjajah. Baik
Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya. Di antaranya ia pernah
dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya. Justru Kyai Hasyim
sempat membuat Belanda kelimpungan. Pertama, ia memfatwakan bahwa perang
melawan Belanda adalah jihad (perang suci). Belanda kemudian sangat kerepotan,
karena perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana. Kedua, Kyai
Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut
ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas.
Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung. Karena banyak
ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan niatnya.
Namun sempat juga Kyai Hasyim
mencicipi penjara 3 bulan pada l942. Tidak jelas alasan Jepang menangkap Kyai
Hasyim. Mungkin, karena sikapnya tidak kooperatif dengan penjajah. Uniknya,
saking khidmatnya kepada gurunya, ada beberapa santri minta ikut dipenjarakan
bersama Kyainya itu.
Masa awal perjuangan Kyai Hasyim
di Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah Belanda
terhadap rakyat Indonesia. Pasukan Kompeni ini tidak segan-segan membunuh
penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah. Pesantren Tebuireng
pun tak luput dari sasaran represif Belanda.
Pada tahun 1913 M., intel Belanda
mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Namun dia
tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh santri hingga tewas. Peristiwa ini
dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kyai Hasyim dengan tuduhan pembunuhan.
Dalam pemeriksaan, Kyai Hasyim
yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda, mampu menepis semua tuduhan
tersebut dengan taktis. Akhirnya beliau dilepaskan dari jeratan hukum.
Belum puas dengan cara adu domba,
Belanda kemudian mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan
pesantren yang baru berdiri 10-an tahun itu. Akibatnya, hampir seluruh bangunan
pesantren porak-poranda, dan kitab-kitab dihancurkan serta dibakar. Perlakuan
represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun
1940an.
Pada bulan Maret 1942, Pemerintah
Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga
secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke tentara
Jepang. Pendudukan Dai Nippon menandai datangnya masa baru bagi kalangan Islam.
Berbeda dengan Belanda yang represif kepada Islam, Jepang menggabungkan antara
kebijakan represi dan kooptasi, sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para
pemimpin Muslim.
Salah satu perlakuan represif
Jepang adalah penahanan terhadap Hadratus Syaikh beserta sejumlah putera dan
kerabatnya. Ini dilakukan karena Kyai Hasyim menolak melakukan seikerei. Yaitu
kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00
pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada
Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). Aktivitas ini juga wajib dilakukan oleh
seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap kali berpapasan atau
melintas di depan tentara Jepang.
Kyai Hasyim menolak aturan
tersebut. Sebab hanya Allah lah yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya,
Kyai Hasyim ditangkap dan ditahan secara berpindah–pindah, mulai dari penjara
Jombang, kemudian Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan, Surabaya. Karena
kesetiaan dan keyakinan bahwa Hadratus Syaikh berada di pihak yang benar,
sejumlah santri Tebuireng minta ikut ditahan. Selama dalam tahanan, Kyai Hasyim
mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangannya menjadi
patah tak dapat digerakkan.
Setelah penahanan Hadratus
Syaikh, segenap kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Tebuireng vakum total.
Penahanan itu juga mengakibatkan keluarga Hadratus Syaikh tercerai berai.
Isteri Kyai Hasyim, Nyai Masruroh, harus mengungsi ke Pesantren Denanyar, barat
Kota Jombang.
Tanggal 18 Agustus 1942, setelah
4 bulan dipenjara, Kyai Hasyim dibebaskan oleh Jepang karena banyaknya protes
dari para Kyai dan santri. Selain itu, pembebasan Kyai Hasyim juga berkat usaha
dari Kyai Wahid Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah dalam menghubungi pembesar-pembesar
Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta.
Tanggal 22 Oktober 1945, ketika
tentara NICA (Netherland Indian Civil Administration) yang dibentuk oleh
pemerintah Belanda membonceng pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris, berusaha
melakukan agresi ke tanah Jawa (Surabaya) dengan alasan mengurus tawanan
Jepang, Kyai Hasyim bersama para ulama menyerukan Resolusi Jihad melawan
pasukan gabungan NICA dan Inggris tersebut. Resolusi Jihad ditandatangani di
kantor NU Bubutan, Surabaya. Akibatnya, meletuslah perang rakyat semesta dalam
pertempuran 10 November 1945 yang bersejarah itu. Umat Islam yang mendengar
Resolusi Jihad itu keluar dari kampung-kampung dengan membawa senjata apa
adanya untuk melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris. Peristiwa 10 Nopember kemudian
diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Pada tanggal 7 Nopember 1945—tiga
hari sebelum meletusnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya—umat Islam
membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi).
Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi umat Islam dari
berbagai faham. Kyai Hasyim diangkat sebagai Ro’is ‘Am (Ketua Umum) pertama
periode tahun 1945-1947.
Selama masa perjuangan mengusir
penjajah, Kyai Hasyim dikenal sebagai penganjur, penasehat, sekaligus jenderal
dalam gerakan laskar-laskar perjuangan seperti GPII, Hizbullah, Sabilillah, dan
gerakan Mujahidin. Bahkan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo senantiasa meminta
petunjuk kepada Kyai Hasyim.
Mendirikan Benteng Islam
Tradisional
Kemampuannya dalam ilmu hadits,
diwarisi dari gurunya, Syaikh Mahfudh At Tarmisi di Mekkah. Selama 7 tahun
Hasyim berguru kepada Syaikh ternama asal Pacitan, Jawa Timur itu. Disamping
Syaikh Mahfudh, Hasyim juga menimba ilmu kepada Syaikh Ahmad Khatib Al
Minangkabau. Kepada dua guru besar itu pulalah Kyai Ahmad Dahlan, pendiri
Muhammadiyah, berguru. Jadi, antara KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan
sebenarnya tunggal guru.
Yang perlu ditekankan, saat
Hasyim belajar di Mekkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan
pembaharuan pemikiran Islam. Dan sebagaimana diketahui, buah pikiran Abduh itu
sangat mempengaruhi proses perjalanan ummat Islam selanjutnya. Sebagaimana
telah dikupas Deliar Noer, ide-ide reformasi Islam yang dianjurkan oleh Abduh
yang dilancarkan dari Mesir, telah menarik perhatian santri-santri Indonesia
yang sedang belajar di Mekkah. Termasuk Hasyim tentu saja. Ide reformasi Abduh
itu ialah pertama mengajak ummat Islam untuk memurnikan kembali Islam dari
pengaruh dan praktek keagamaan yang sebenarnya bukan berasal dari Islam. Kedua,
reformasi pendidikan Islam di tingkat universitas; dan ketiga, mengkaji dan
merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan
kehidupan modern; dan keempat, mempertahankan Islam. Usaha Abduh merumuskan
doktrin-doktrin Islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan modern pertama
dimaksudkan agar supaya Islam dapat memainkan kembali tanggung jawab yang lebih
besar dalam lapangan sosial, politik dan pendidikan. Dengan alasan inilah Abduh
melancarkan ide agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada
pola pikiran para mazhab dan agar ummat Islam meninggalkan segala bentuk
praktek tarekat. Syaikh Ahmad Khatib mendukung beberapa pemikiran Abduh,
walaupun ia berbeda dalam beberapa hal. Beberapa santri Syaikh Khatib ketika
kembali ke Indonesia ada yang mengembangkan ide-ide Abduh itu. Di antaranya
adalah KH Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah. Tidak demikian
dengan Hasyim. Ia sebenarnya juga menerima ide-ide Abduh untuk menyemangatkan
kembali Islam, tetapi ia menolak pikiran Abduh agar ummat Islam melepaskan diri
dari keterikatan mazhab. Ia berkeyakinan bahwa adalah tidak mungkin untuk
memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran Al Qur’an dan Hadist tanpa
mempelajari pendapat-pendapat para ulama besar yang tergabung dalam sistem
mazhab. Untuk menafsirkan Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti
buku-buku para ulama mazhab hanya akan menghasilkan pemutarbalikan saja dari
ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, demikian tulis Dhofier. Dalam hal tarekat,
Hasyim tidak menganggap bahwa semua bentuk praktek keagamaan waktu itu salah
dan bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya, ia berpesan agar ummat Islam
berhati-hati bila memasuki kehidupan tarekat. Dalam perkembangannya, benturan
pendapat antara golongan bermazhab yang diwakili kalangan pesantren (sering
disebut kelompok tradisional), dengan yang tidak bermazhab (diwakili
Muhammadiyah dan Persis, sering disebut kelompok modernis) itu memang kerap
tidak terelakkan. Puncaknya adalah saat Konggres Al Islam IV yang
diselenggarakan di Bandung. Konggres itu diadakan dalam rangka mencari masukan
dari berbagai kelompok ummat Islam, untuk dibawa ke Konggres Ummat Islam di
Mekkah.
Karena aspirasi golongan
tradisional tidak tertampung (di antaranya: tradisi bermazhab agar tetap diberi
kebebasan, terpeliharanya tempat-tempat penting, mulai makam Rasulullah sampai
para sahabat) kelompok ini kemudian membentuk Komite Hijaz. Komite yang
dipelopori KH Abdullah Wahab Chasbullah ini bertugas menyampaikan aspirasi
kelompok tradisional kepada penguasa Arab Saudi. Atas restu Kyai Hasyim, Komite
inilah yang pada 31 Februari l926 menjelma jadi Nahdlatul Ulama (NU) yang
artinya kebangkitan ulama.
Setelah NU berdiri posisi
kelompok tradisional kian kuat. Terbukti, pada 1937 ketika beberapa ormas Islam
membentuk badan federasi partai dan perhimpunan Islam Indonesia yang terkenal
dengan sebuta MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) Kyai Hasyim diminta jadi
ketuanya. Ia juga pernah memimpin Masyumi, partai politik Islam terbesar yang
pernah ada di Indonesia.
Penjajahan panjang yang
mengungkung bangsa Indonesia, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk
memperjuangkan martabat bangsa, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Pada
tahun 1908 muncul sebuah gerakan yang kini disebut Gerakan Kebangkitan
Nasional. Semangat Kebangkitan Nasional terus menyebar ke mana-mana, sehingga
muncullah berbagai organisai pendidikan, sosial, dan keagamaan, diantaranya
Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916, dan Taswirul Afkar tahun
1918 (dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri atau Kebangkitan Pemikiran). Dari
situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar). Serikat
itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat.
Dengan adanya Nahdlatul Tujjar,
maka Taswirul Afkar tampil sebagi kelompok studi serta lembaga pendidikan yang
berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Tokoh utama
dibalik pendirian tafwirul afkar adalah, KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh muda
pengasuh PP. Bahrul Ulum Tambakberas), yang juga murid hadratus Syaikh.
Kelompok ini lahir sebagai bentuk kepedulian para ulama terhadap tantangan
zaman di kala itu, baik dalam masalah keagamaan, pendidikan, sosial, dan
politik.
Pada masa itu, Raja Saudi Arabia,
Ibnu Saud, berencana menjadikan madzhab Salafi-Wahabi sebagai madzhab resmi
Negara. Dia juga berencana menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang
selama ini banyak diziarahi kaum Muslimin, karena dianggap bid’ah.
Di Indonesia, rencana tersebut
mendapat sambutan hangat kalangan modernis seperti Muhammadiyah di bawah
pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto.
Sebaliknya, kalangan pesantren yang menghormati keberagaman, menolak dengan
alasan itu adalah pembatasan madzhab dan penghancuran warisan peradaban itu.
Akibatnya, kalangan pesantren dikeluarkan dari keanggotaan Kongres Al Islam
serta tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres
Islam Internasional) di Mekah, yang akan mengesahkan keputusan tersebut.
Didorong oleh semangat untuk
menciptakan kebebasan bermadzhab serta rasa kepedulian terhadap pelestarian
warisan peradaban, maka Kyai Hasyim bersama para pengasuh pesantren lainnya,
membuat delegasi yang dinamai Komite Hijaz. Komite yang diketuai KH. Wahab
Hasbullah ini datang ke Saudi Arabia dan meminta Raja Ibnu Saud untuk
mengurungkan niatnya. Pada saat yang hampir bersamaan, datang pula tantangan
dari berbagai penjuru dunia atas rencana Ibnu Saud, sehingga rencana tersebut
digagalkan. Hasilnya, hingga saat ini umat Islam bebas melaksanakan ibadah di
Mekah sesuai dengan madzhab masing-masing. Itulah peran internasional kalangan
pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan
berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat
berharga.
Kisah Pendirian Nahdhatul Ulama’
Tahun 1924, kelompok diskusi
Taswirul Afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi
yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang
dimintai persetujuannya, meminta waktu untuk mengerjakan salat istikharah,
menohon petunjuk dari Allah.
Dinanti-nanti sekian lama,
petunjuk itu belum datang juga. Kyai Hasyim sangat gelisah. Dalam hati kecilnya
ingin berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif, Bangkalan.
Sementara nun jauh di Bangkalan
sana, Kyai Khalil telah mengetahui apa yang dialami Kyai Hasyim. Kyai Kholil
lalu mengutus salah satu orang santrinya yang bernama As’ad Syamsul Arifin
(kelak menjadi pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Situbondo), untuk menyampaikan
sebuah tasbih kepada Kyai Hasyim di Tebuireng. Pemuda As’ad juga dipesani agar
setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kyai Hasyim.
Ketika Kyai Hasyim menerima
kedatangan As’ad, dan mendengar ayat tersebut, hatinya langsung bergentar.
”Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan tercapai,” ujarnya lirih
sambil meneteskan airmata.
Waktu terus berjalan, akan tetapi
pendirian organisasi itu belum juga terealisasi. Agaknya Kyai Hasyim masih
menunggu kemantapan hati.
Satu tahun kemudian (1925),
pemuda As’ad kembali datang menemui Hadratus Syaikh. ”Kyai, saya diutus oleh
Kyai Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar pemuda Asad sambil menunjukkan
tasbih yang dikalungkan Kyai Kholil di lehernya. Tangan As’ad belum pernah
menyentuh tasbih sersebut, meskipun perjalanan antara Bangkalan menuju
Tebuireng sangatlah jauh dan banyak rintangan. Bahkan ia rela tidak mandi
selama dalam perjalanan, sebab khawatir tangannya menyentuh tasbih. Ia memiliki
prinsip, ”kalung ini yang menaruh adalah Kyai, maka yang boleh melepasnya juga
harus Kyai”. Inilah salah satu sikap ketaatan santri kepada sang guru.
”Kyai Kholil juga meminta untuk
mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad.
Kehadiran As’ad yang kedua ini
membuat hati Kyai Hasyim semakin mantap. Hadratus Syaikh menangkap isyarat
bahwa gurunya tidak keberatan jika ia bersama kawan-kawannya mendirikan
organisai/jam’iyah. Inilah jawaban yang dinanti-nantinya melalui salat
istikharah.
Sayangnya, sebelum keinginan itu
terwujud, Kyai Kholil sudah meninggal dunia terlebih dahulu.
Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31
Januari 1926M, organisasi tersebut secara resmi didirikan, dengan nama
Nahdhatul Ulama’, yang artinya kebangkitan ulama. Kyai Hasyim dipercaya sebagai
Rais Akbar pertama. Kelak, jam’iyah ini menjadi organisasi dengan anggota
terbesar di Indonesia, bahkan di Asia.
Sebagaimana diketahui, saat itu
(bahkan hingga kini) dalam dunia Islam terdapat pertentangan faham, antara
faham pembaharuan yang dilancarkan Muhammad Abduh dari Mesir dengan faham
bermadzhab yang menerima praktek tarekat. Ide reformasi Muhammad Abduh antara
lain bertujuan memurnikan kembali ajaran Islam dari pengaruh dan praktek
keagamaan yang bukan berasal dari Islam, mereformasi pendidikan Islam di
tingkat universitas, dan mengkaji serta merumuskan kembali doktrin Islam untuk
disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan modern. Dengan ini Abduh melancarakan
ide agar umat Islam terlepas dari pola pemikiran madzhab dan meninggalkan segala
bentuk praktek tarekat.
Semangat Abduh juga mempengaruhi
masyarakat Indonesia, kebanyakan di kawasan Sumatera yang dibawa oleh para
mahasiswa yang belajar di Mekkah. Sedangkan di Jawa dipelopori oleh KH. Ahmad
Dahlan melalui organisasi Muhammadiyah (berdiri tahun 1912).
Kyai Hasyim pada prinsipnya
menerima ide Muhammad Abduh untuk membangkitkan kembali ajaran Islam, akan
tetapi menolak melepaskan diri dari keterikatan madzhab. Sebab dalam
pandangannya, umat Islam sangat sulit memahami maksud Al Quran atau Hadits
tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama madzhab. Pemikiran yang tegas dari
Kyai Hasyim ini memperoleh dukungan para Kyai di seluruh tanah Jawa dan Madura.
Kyai Hasyim yang saat itu menjadi ”kiblat” para Kyai, berhasil menyatukan
mereka melalui pendirian Nahdlatul Ulama’ ini.
Pada saat pendirian organisasi
pergerakan kebangsaan membentuk Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI), Kyai
Hasyim dengan putranya Kyai Wahid Hasyim, diangkat sebagai pimpinannya (periode
tahun 1937-1942).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar